Yogyakarta – Kampung magot Cokrodiningratan menjadi salah satu solusi yang diinisiasi warga di tengah isu persoalan sampah Kota Yogyakarta yang hingga kini tak kunjung selesai. Warga secara bersama mengumpulkan sisa sisa sampah rumah tangga untuk dimasukkan ke dalam demplot pengolahan sampah. Kemudian sampah organik dari rumah tangga, diolah dengan berbagai metode seperti pakan magot, biopori, hingga eco enzim.

Sebelum menjadi pakan magot atau diolah menjadi pupuk, sampah organik akan dicacah dahulu oleh pengelola dengan mesin hingga merata kemudian dimasukkan ke 10 boks berisi ribuan magot. Magot merupakan senejis larva yang mampu memakan sisa sampah sebanyak 5 kali berat tubuhnya, cacahan sampah organik akan habis dimakan ribuan magot tak kurang dari 3 sampai 5 jam.

Demplot magot di Cokrodirjan dibuat di atas lahan seluas 800 meter persegi. Demplot ini juga ditanami berbagai tanaman seperti cabai dan ketela, dimana tanaman-tanaman tersebut juga dipupuk menggunakan kasgot atau makanan belas sisa magot. Selain itu, hasil panen magot juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak baik ayam ataupun lele.

“Tapi dengan 3 metode tadi ya, metode dari magot ya kemudian biopori ember tumpuk, nah ketika penambahan M segitiga itu nanti akan lebih cepat lagi, kenapa? Ini Cuma tiga hari jadi kompos, nah makannya kita berani menaksirkan paling tidak sehari itu bisa satu ton untuk pengolahan dengan hal yang sederhana seperti ini” ungkap Tri Yulianto selaku Ketua Forum Bank Sampah Cokrodiningratan.

Dalam sehari, demplot pengolahan sampah terpadu warga ini mampu mengolah sampah organik 500 kilogram sehari, atau 15 ton per bulan. Tak hanya dari warga sekitar, suplai sampah organiknya juga didatangkan dari tpst 3r nitikan Kota Yogyakarta.

“Memilah sampah dari rumah itu penting, jangan dicampuri sampahnya dengan macem-macem lah. Jadi yang olahnya cepet itu apa? Nasi, sayur, daging itu silahkan. Kalau dicampur dengan daun manga, daun apa macem-macem gitu proses nya lebih lama terkecuali dengan mesin pencacah dan ada mesin bubur nah itu yang bisa direalisasikan. Alhamduillah turunan dari magot ini luar biasa, dari maggot ini ternyata bisa sampe situ kita bisa sampe ngasih makan ayam.” ungkap Debu Agung selaku pengelola kampung magot

Inovasi kampung magot diharapkan menjadi salah satu sebagai solusi penanganan sampah warga. Pihak pemkot Yogyakarta juga berencana menciptakan demplot-demplot magot di berbagai wilayah di Kota Yogyakarta.

_____

AGUNG, RBTV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *