Solo – Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta bekerja sama dengan berbagai pihak melakukan pendampingan terhadap para pelaku usaha batik di Kampung Batik Laweyan. Program ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan batik yang berkelanjutan, ramah lingkungan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan industri global.
Kampung Batik Laweyan dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Kota Solo, Jawa Tengah. Wilayah ini menjadi rumah bagi puluhan usaha batik yang masih eksis hingga kini. Melalui kolaborasi dengan Bank Negara Indonesia (BNI) dan CECT Universitas Trisakti, Pemkot Surakarta menjalankan program pendampingan untuk mendukung transformasi industri batik lokal ke arah yang lebih berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam program ini adalah penggunaan stearin sawit sebagai bahan baku alternatif malam batik. Bahan ini dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan malam konvensional yang berbahan dasar parafin dari penyulingan minyak bumi.
Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) menyambut positif program ini. Mereka menyatakan dukungan penuh terhadap inisiatif penggunaan bahan berbasis tumbuhan, yang sejatinya sudah mulai diterapkan oleh beberapa perajin batik setempat.
“Kami mendukung penuh penggunaan bahan alami seperti stearin sawit, karena ini sejalan dengan semangat batik berkelanjutan yang kami dorong,” ujar Muhammad Nugroho, Eksekutor FPKBL.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, juga menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif ini. Ia menilai program tersebut sejalan dengan visi Pemkot Surakarta untuk mendorong transformasi UMKM menuju industri hijau dan ramah lingkungan.
“Penggunaan stearin sawit tidak hanya mengurangi ketergantungan pada bahan baku fosil, tetapi juga berpotensi menarik perhatian pasar global karena sifatnya yang lebih ramah lingkungan,” ujar Astrid.
Lebih lanjut, Astrid menekankan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan di kawasan wisata, terutama yang berbasis industri kreatif seperti batik. Ia berharap pendampingan ini dapat menjadi langkah awal dalam menciptakan ekosistem industri batik yang tidak hanya kreatif dan berdaya saing, tetapi juga berwawasan lingkungan.
RIZKI BUDI PRATAMA – RBTV