SEMARANG – Setelah berhasil mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat terbang, Pertamina terus melakukan uji coba sekaligus mengembangkan titik-titik pengumpulan minyak jelantah dari masyarakat. Saat ini, wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) baru memiliki satu titik pengumpulan, dan dua titik tambahan akan segera dibuka dalam waktu dekat.
Minyak jelantah, atau minyak goreng bekas, kini dimanfaatkan Pertamina untuk diolah menjadi bahan bakar ramah lingkungan bagi pesawat terbang. Uji coba bahan bakar ini tengah dilakukan pada dua maskapai nasional, yakni Garuda Indonesia dan Pelita Air.
Di sisi lain, Pertamina kini membutuhkan pasokan minyak jelantah dalam jumlah besar untuk mendukung proses produksi. Untuk itu, keterlibatan masyarakat sangat diperlukan dalam mengumpulkan minyak jelantah dari rumah tangga maupun pelaku usaha makanan.
“Saat ini baru ada satu titik pengumpulan di SPBU AKPOL Semarang. Namun, kami pastikan akan memperbanyak titik pengumpulan, baik di Jawa Tengah maupun di DIY,” ujar Taufiq Kurniawan, Area Manager Communication & CSR Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga.
Minyak jelantah yang dikumpulkan dari masyarakat akan dibeli oleh Pertamina dengan harga sekitar Rp5.500 per liter. Langkah ini tidak hanya mendukung pengembangan energi terbarukan, tetapi juga menjadi solusi pengelolaan limbah minyak goreng yang lebih ramah lingkungan.
Ke depan, Pertamina juga berencana membuka stasiun pengumpulan di Yogyakarta. Hal ini mengingat proses pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat dilakukan di Kilang Pertamina Cilacap, yang menjadi pusat produksi bioavtur di Indonesia.
Program ini diharapkan dapat mempercepat transisi energi bersih sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat.
Widi / RBTV