Sleman — Para siswa Sekolah Dasar di Sleman memiliki cara tersendiri dalam melestarikan budaya sekaligus mengalihkan perhatian dari kebiasaan bermain gawai. Mereka belajar membuat wayang suket, salah satu bentuk seni tradisional Indonesia yang terbuat dari rumput kering.
Suasana berbeda tampak di SD Negeri Gabahan, Mlati, Sleman. Para siswa terlihat serius dan antusias saat melipat dan merangkai rumput kering menjadi bentuk tokoh wayang. Kegiatan ini merupakan bagian dari pengenalan seni wayang suket, sebuah warisan budaya yang mulai jarang dikenal oleh generasi muda.
Dalam bahasa Jawa, suket berarti rumput. Maka, wayang suket dapat diartikan sebagai wayang yang dibuat dari bahan dasar rumput. Jenis rumput yang digunakan adalah mendong atau purun tikus yang sebelumnya telah dikeringkan. Rumput tersebut kemudian dianyam dan dirangkai hingga membentuk karakter wayang khas Indonesia.
Bagi sebagian besar siswa, ini adalah pengalaman pertama mereka membuat wayang suket. Meski baru pertama kali mencoba, mereka menunjukkan antusiasme tinggi.
“Seru banget, soalnya baru tahu ternyata rumput bisa jadi wayang,” ujar Rara, salah satu siswa.
“Aku suka bikin-bikin kayak gini. Jadi nggak main HP terus,” timpal Zahra, siswa lainnya.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mengenalkan dan melestarikan seni budaya asli Indonesia kepada generasi muda, terutama di tengah gempuran budaya asing dan ketergantungan pada gawai. Melalui pelatihan ini, anak-anak juga diajak menumbuhkan kreativitas melalui aktivitas yang menyenangkan dan edukatif.
“Kami ingin mengenalkan wayang suket ke sekolah-sekolah sebagai cara memperkenalkan budaya tradisional sekaligus mengalihkan anak dari ketergantungan pada gadget,” ujar Gaga Rizky, Founder Wayang Suket Indonesia.
Ke depan, pengenalan wayang suket ini akan terus dilakukan di berbagai sekolah dasar negeri di seluruh Indonesia sebagai bagian dari gerakan pelestarian budaya sejak dini.
Widi – RBTV