Bantul, DIY — Berawal dari keprihatinan melihat limbah batok kelapa yang berserakan, seorang warga Dusun Juron, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, berhasil mengubahnya menjadi berbagai produk kerajinan bernilai tinggi. Usaha yang diberi nama Yanti Batok Craft ini bahkan telah berhasil menembus pasar internasional.
Adalah Haryanti, pemilik usaha, yang memulai perjalanan bisnis ini sejak tahun 2002. Sebelumnya, ia bersama sang suami sempat menekuni usaha makanan kering. Namun, karena mengalami pasang surut, usaha tersebut akhirnya tutup.
“Saya terinspirasi saat melihat kancing baju dari batok kelapa yang dijual di pasar. Dari situ terpikir bahwa limbah batok yang sering berserakan itu bisa diolah jadi sesuatu yang bernilai,” ujar Haryanti, pengrajin batok kelapa.
Dari situ, ia mulai serius memproduksi kancing baju dari batok kelapa yang dipasarkan ke toko perlengkapan jahit. Seiring waktu, produk usahanya berkembang menjadi berbagai aksesori dan suvenir. Dalam proses produksinya, Haryanti memilih batok kelapa yang tebal agar hasil kerajinan lebih kuat dan tidak mudah tipis saat diproses.
Kini, Yanti Batok Craft memproduksi berbagai jenis kerajinan tangan seperti kalung, gelang, dompet, taplak meja, alat makan, hingga tas. Dari semua produk tersebut, tas batok kelapa menjadi produk paling diminati pasar.
“Proses pembuatan satu tas butuh waktu dua hari hingga satu minggu, tergantung motif dan tingkat kesulitannya. Rata-rata tiga hari bisa selesai satu tas,” jelas Haryanti.
Soal harga, produk suvenir seperti kancing dan aksesori dibanderol mulai dari Rp3.000 hingga Rp50.000, sedangkan untuk tas batok kelapa dijual mulai dari Rp30.000 hingga Rp450.000, tergantung model dan tingkat kerumitan desain.
Inovasi dan ketekunan Haryanti dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai ini tidak hanya membawa keuntungan secara ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan sampah dan pemberdayaan potensi lokal.
Delly
RBTV