YOGYAKARTA – Perluasan kuota jalur mandiri di Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), dinilai mengganggu keseimbangan ekosistem pendidikan tinggi. Perguruan Tinggi Swasta, mengaku kehilangan sejumlah calon mahasiswa, karena sejumlah PTN masih membuka seleksi mandiri hingga mendekati tahun ajaran baru.

Persaingan mendapatkan calon mahasiswa baru kini semakin ketat. Di tengah proses penerimaan mahasiswa baru, sejumlah Perguruan Tinggi Negeri masih membuka jalur seleksi mandiri, dengan kuota yang dinilai semakin besar.

Masa seleksi yang berlangsung hingga mendekati dimulainya tahun ajaran baru, dinilai memberikan dampak bagi PTS, karena sejumlah calon mahasiswa yang sebelumnya telah memilih PTS kembali berpindah ke PTN.

Kondisi tersebut terlihat dari data Universitas Ahmad Dahlan. Sekitar 15 persen calon mahasiswa yang telah melakukan registrasi dan membayar biaya kuliah, memilih mengundurkan diri, karena mendapatkan kesempatan masuk ke PTN melalui jalur mandiri. Kondisi ini kemudian mendorong sejumlah PTS menyampaikan keluhan melalui Komisi X DPR RI.

Rektor Universitas Ahmad Dahlan, Muchlas, menilai, perluasan kuota jalur mandiri di PTN-BH tidak seharusnya berlangsung tanpa batas. Menurutnya pemerintah perlu memastikan adanya keseimbangan dalam sistem penerimaan mahasiswa baru, agar PTN dan PTS dapat berkembang secara proporsional.

“Diskusi di sana, kemudian juga sudah menyampaikan beberapa surat, aka nada penataan kembali, dan memang sudah ada peraturan. Sekarang persoalannya adalah bagaimana nanti bisa melakukan pengawasan yang berkelanjutan terhadap seluruh peraturan yang dihasilkan yang mengatur tentang program-program penerimaan mahasiswa baru di universitas negeri, itu saja persoalannya. Sepertinya pemerintah sudah mengeluarkan itu, tinggal secara teknis perlu ada penataan, evaluasi, pengawasan” ujar Muchlas M.T. selaku Rektor Universitas Ahmad Dahlan.

PTS berharap pemerintah segera menata ulang pola penerimaan mahasiswa baru. Kebijakan yang lebih proporsional dinilai menjadi kunci, agar PTN dan PTS dapat tumbuh bersama, sekaligus menjaga keberlangsungan ekosistem pendidikan tinggi di Indonesia.

Reporter : Agung RBTV

Penyunting Artikel : Danish

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *