KOTA YOGYAKARTA – Menjelang perihatan HUT Kemerdekaan RI ke-81, pedagang bendera di Kota Yogyakarta mengeluhkan sepinya pembeli. Omzet penjualan tahun ini disebut turun hingga 50 persen, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Memasuki bulan Agustus sentra penjualan bendera di Kampung Bendera Juminahan, Danurejan, Kota Yogyakarta, mulai dipenuhi berbagai perlengkapan kemerdekaan. Mulai dari bendera merah putih, umbul-umbul, bambu tiang, hingga pernak-pernik HUT Kemerdekaan.

Harganya bervariasi. Bendera dijual mulai 25 hingga 70 ribu rupiah, sementara umbul-umbul dibanderol 60 hingga 250 ribu rupiah. Untuk satu ikat bambu tinag bendera, harganya mencapai 130 ribu rupiah.

Namun di tengah momentum yang biasanya menjadi masa panen, penjualan tahun ini justru masih sepi. Jika tahun lalu omzet harian bisa mencapai satu hingga dua juta rupiah, kini transaksi hanya sekitar 500 ribu rupiah per hari.

“Tidak banyak, cuma sekitar lima kodi, umbul-umbul juga sama, tidak berani nyetok banyak. Tidak optimis habis juga, tapi masih bisa disimpan untuk tahun depan” ujar Susan selaku pedagang bendera.

Selain daya beli masyarakat yang menurun, pedagang juga menghadapi kenaikan harga dari pemasok. Sejumlah produk mengalami kenaikan harga antara 10 hingga 20 ribu rupiah.

Kondisi tersebut membuat pedagang lebih berhati-hati menambah stok. Mereka khawatir perlengkapan kemerdekaan yang tidak terjual akan menjadi beban setelah momentum Agustus berakhir.

Sepinya pembeli diduga juga berkaitan dengan efisiensi belanja masyarakat dan instansi. Sebagaian memilih menggunakan kembali bendera dan umbul-umbul lama, daripada membeli perlengkapan baru.

Meski demikian, pedagang masih berharap penjualan meningkat menjelang puncak peringatan HUT Kemerdekaan RI. Mereka berharap masyarakat dan instansi tetap membeli produk lokal, sekaligus turut menjaga semarak perayaan kemerdekaan.

Reporter : Agung RBTV

Penyunting Artikel : Danish

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *