GUNUNGKIDUL – Bagi warga Padukuhan Klayu Satu, Kalurahan Sumberwungu, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, kemerdekaan menyisakan perjuangan yang belum usai. Warga di kawasan perbukitan karst ini, masih berjuang memenuhi kebutuhan paling mendasar, yakni memperoleh air bersih.

Akses menuju Padukuhan Klayu Satu melewati jalan cor yang membelah  kawasan perbukitan karst. Di balik bentang alam yang tampak indah, tersimpah kenyataan pahit yang harus dihadapi warga setiap musim kemarau. Keterbatasan pasokan air bersih membuat mereka bergantung pada distribusi air tangki, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Salah seotang warga, Winarno, menunjukkan meteran air milik PDAM Tirta Handayani yang masih terpasang di halaman rumahnya. Namun selama kurang lebih tiga tahun terakhir, tidak ada setetes pun air yang mengalir dari jaringan tersebut.

Satu tangki air berkapasitas penuh dibeli dengan harga sekitar 160 ribu rupiah, dan hanya mampu mencukupi kebutuhan keluarga selama kurang lebih dua pekan. Besarnya biaya yang harus dikeluarkan membuat Winarno terpaksa memanfaatkan hasil panen gaplek untuk membeli air. Bahkan, ketika hasil panen tidak mencukupi, ia mengaku pernah menjual kambing peliharaannya agar keluarganya tetap memiliki air untuk minum, memasak dan kebutuhan sehari-hari.

“Tidak mengalir kurang lebih tiga tahun. Kebutuhan air kalau musim kemarau ini harus beli, mau tidak mau harus beli. Sekarang sudah beli lima tangka, satu tangka 160 ribu” ujar Winarno selaku warga Klayu I.

Kondisi serupa juga dirasakan sebagian besar warga Padukuhan Klayu Satu. Ketua RT setempat mengatakan hampir seluruh kepala keluarga di lingkungannya, bergantung pada pasokan air tangki setiap musim kemarau. Tidak sedikit warga yang harus menjual hasil pertanian maupun ternak, demi memenuhi kebutuhan air bersih.

“Sekitar kurang lebih tiga tahunan. Beli melalui tangki dari arah Pantai. Air itu kan termasuk kebutuhan yang harus ada, jadi intinya ada atau tidak ada uang tetap harus ada uang karena itu termasuk kebutuhan yang harus, tetap beli kalau tidak ada” ujar Marjuki selaku Ketua RT 2 Padukuhan Klayu I.

Menjelang Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, warga Klayu hanya menginginkan satu hal sederhana, yakni air bersih.

Reporter : Agung RBTV
Penyunting Artikel : Danish

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *