KULON PROGO – Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) cabang Kulon Progo, menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) ke-10, di Novotel YIA, Temon, Senin kemarin. Agenda utama musyawarah adalah memilih kepengurusan baru, untuk menghadapi berbagai tantangan di sektor jasa konstruksi.
Kepengurusan baru Gabungan Badan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) cabang Kulon Progo diharapkan mampu membawa organisasi lebih adaptif, komunikatif, kolaboratif, dan inklusif, di tengah lesunya dunia konstruksi. Kondisi tersebut dipengaruhi dampak pandemi Covid-19, serta berkurangnya anggaran proyek akibat pengalihan dana ke sejumlah program nasional, seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih.
Selain itu, pelaku konstruksi di Kulon Progo dinilai masih perlu meningkatkan kapasitas, agar mampu mengerjakan proyek-proyek berskala besar, dengan nilai di atas 100 miliar rupiah.
“Kepengurusan yang baru nanti lebih komunikatif, karena pekerjaan konstruksi sedang tidak baik-baik saja, dengan adanya kemarin Covid-19, dilanjut dengan MBG dan Koperasi Merah Putih, jadi dana pekerjaan-pekerjaan ini terserap untuk itu” ujar Zuharsono Asharie selaku Ketua Gapensi DIY.
Gapensi Juga menghadapi tantangan menurunnya jumlah anggota. Jika pada 2019 tercatat sekitar 180 anggota, kini hanya tersisa 66 anggota. Karena itu, kepengurusan baru diharapkan mampu memperkuat solidaritas organisasi sekaligus meningkatkan daya saing pelaku jasa konstruksi di Kulon Progo.
“100 miliar itu harus kualifikasi besar, jadi disitu belum ada yang bisa memenuhi spesifikasi tersebut. Namun sebetulnya juga bisa dengan kita meningkatkan daya saing. Disitu harapan kami nanti siapapun pengurus yang baru bisa kolaboratif, inklusif, dan adaptif dengan berbagai hal yang memang tantangannya sekarang tidak baik-baik saja seperti yang sudah disampaikan” ujar Nanang Sukrisna selaku Ketua Kadin Kulon Progo.
Reporter : Bagas RBTV
Penyunting Artikel : Danish
