KOTA YOGYAKARTA – Ancaman kekeringan mulai melanda sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta seiring memuncaknya musim kemarau. Meski demikian, pemerintah daerah memastikan ketersediaan pangan dan pasokan air bersih masih terjaga, serta belum ditemukan dampak serius terhadap produksi pertanian.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Yogyakarta mencatat, hingga akhir Juli 2026, mayoritas wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta telah mengalami lebih dari 31 hari tanpa hujan. Kondisi ini menempatkan sebagian besar daerah dalam status siaga kekeringan.
Musim kemarau tahun ini diperkirakan menyerupai kondisi El Nino pada tahun 2023, dengan curah hujan yang sangat rendah dan puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus mendatang.
Sejumlah daerah seperti Gunungkidul dan Sleman pun telah menetapkan status siaga kekeringan, menyusul menurunnya ketersediaan air di sejumlah titik.
Meski demikian, Pemerintah Daerah DIY memastikan kondisi belum berpengaruh terhadap ketahanan pangan. Stok bahan pangan pokok dinyatakan masih aman, dan hingga kini belum ada laporan resmi mengenai gagal panen akibat kekeringan.
Pemerintah juga terus memantau perkembangan cuaca, sekaligus menyiapkan langkah antisipasi apabila kondisi kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
“Itu terlihat dari sikon masing-masing. Jadi kepala daerah masing-masing yang menentukan kondisi itu agar kemudian ada penyikapan cepat untuk penanganan lebih lanjut. Saya kira itu karena memang yang parah daaerah Gunungkidul, Kulon Progo seperti itu. Kita tidak tahu, disitu juga banyak embung, dulu juga difungsikan untuk simpanan air, embung-embung yang ada. Cuma kalau panasnya terus-terusan lama-lama menguap habis juga.” ujar Ni Made Dwipanti Indrayanti selaku Sekretaris Daerah DIY.
Pemerintah Daerah DIY mengimbau masyarakat tidak panik menghadapi musim kemarau, namun tetap menghemat penggunaan air, sambil terus memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG.
Reporter : Agung RBTV
Penyunting Artikel : Danish
