GUNUNGKIDUL – Musim kemarau yang telah berlangsung lebih dari dua bulan mulai menyulitkan warga di sejumlah wilayah Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk mendapatkan air bersih. Belum tersedianya jaringan perpipaan membuat warga terpaksa membeli air guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Di Padukuhan Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, warga setiap hari mengangkut air dari tempat penampungan umum menuju rumah masing-masing. Air tersebut digunakan untuk memasak, minum, mandi, mencuci, hingga kebutuhan ternak.

Keterbatasan pasokan membuat warga harus menghemat penggunaan air. Salah seorang warga, Wakino, mengaku membeli satu tangki air setiap dua pekan dengan harga Rp120.000. Satu tangki tersebut digunakan bersama oleh 4 hingga 5 keluarga sehingga menjadi beban tambahan di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat.

“Sudah beli 2 kali, untuk 1 tangki harganya Rp120.000. Biasanya 2 tangki sampai 2 minggu untuk 5 keluarga, untuk mandi, minum, mencuci, minum sapi, dan kambing,” Ujar Wakino, selaku warga.

Kondisi serupa dialami sebagian besar warga Padukuhan Kemesu. Dukuh Kemesu, Sugiyanta, mengatakan, hingga kini wilayahnya belum terjangkau jaringan perpipaan PDAM. Akibatnya, setiap musim kemarau warga kembali bergantung pada pasokan air yang dibeli dari luar daerah.

“Beli beberapa tangki yang mungkin dari warga yang belum atau tidak mempunyai wadah hujan yang cukup. Untuk saat ini mungkin 1 bulan sudah habis. Untuk PDAM belum ada di semua rumah warga, hanya ada di 3 titik meter,” Ungkap Sugiyanto, selaku Dukuh Kemesu.

Warga berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi jangka panjang, seperti pembangunan jaringan air bersih atau penyediaan infrastruktur pendukung agar kebutuhan air bersih dapat dipenuhi secara lebih mudah, merata, dan terjangkau.

Reporter : Agung RBTV

Penyunting Artikel : Yuliana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *