BANTUL – Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Kebudayaan bersama Abdi Dalem Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kembali menggelar tradisi tahunan Jamasan Pusaka Tombak Kyai Hagnya Murni. Tradisi yang dilaksanakan pada bulan Suro ini, merupakan wujud pelestarian budaya sekaligus penghormatan terhadap warisan leluhur.

Sebelum prosesi jamasan, Tombak Kyai Hagnya Murni bersama dua songsong, lima tombak pengamping, serta 17 tombak milik Kapanewon dikirab mengelilingi kompleks Rumah Dinas Bupati Bantul. Iring-iringan para Abdi Dalem kemudian memasuki Bangsal Pendopo, untuk mengikuti prosesi jamasan yang berlangsung secara khidmat.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih memimpin langsung prosesi jamasan Tombak Kyai Hagnya Murni. Pusaka tersebut dibersihkan menggunakan kuas, kemudian diolesi minyak khusus untuk menjaga kondisinya agar terhindar dari karat.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul, Yanatun Yundiana menjelaskan, tradisi siraman pusaka merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya Jawa. Tombak Kyai Hagnya Murni merupakan Paringan Dalem atau pemberian Sri Sultan Hamengku Buwono X, kepada Pemerintah Kabupaten Bantul, bersama dua songsong dan lima tombak pengamping.

“Secara fisik itu adalah membersihkan agar benda pusaka terus bisa terawat. Tapi arti filosofinya adalah bahwa kita yang pertama adalah untuk membersihkan diri. Yang kedua sebagai wujud untuk kita melestarikan kebudayaan warisan dari leluhur kita. Intinya bahwa setiap tahun kita melakukan pembersihan diri agar kedepan tahun- tahun berikutnya pembangunan bisa berjalan lebih tertata Kembali” ungkap  Yanatun Yunadiana, selaku Kepala Dinas Kebudayaan Bantul

Selain Tombak Kyai Hagnya Murni beserta tombak pengamping, prosesi jamasan juga dilakukan terhadap 17 tombak milik Kapanewon Se-Kabupaten Bantul, dan 15 tombak pamor budaya milik Kalurahan.

Reporter : Delly RBTV

Penyunting Artikel : Danish

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *