KULON PROGO – Anjloknya harga telur ayam negeri di tingkat peternak di Kabupaten Kulon Progo dalam sebulan terakhir membuat peternak terus merugi karena harga jual berada di bawah biaya produksi. Peternak ayam petelur terancam gulung tikar.

Harga telur di tingkat peternak di Kabupaten Kulon Progo hanya berkisar Rp19.000 per kilogram, bahkan sempat menyentuh Rp18.000 per kilogram. Akibatnya, harga telur di pasar turun menjadi RP21.000 hingga Rp22.000 per kilogram.

Penurunan harga diduga dipicu oleh serapan pasar menurun setelah program MBG libur serta melimpahnya stok telur, sementara biaya produksi justru meningkat. Harga pokok produksi telur mencapai Rp25.500 per kilogram untuk peternak skala kecil dan menengah, sedangkan dengan pakan pelet mencapai Rp26.500 per kilogram.

Kenaikan harga pakan menjadi beban tambahan. Harga jagung naik dari Rp6.000 menjadi Rp7.000 per kilogram, sementara akibat penguatan dolar, harga konsentrat juga ikut meningkat. Jika harga telur tidak segera membaik dalam tiga bulan ke depan, peternak dengan modal terbatas terancam gulung tikar.

“Harga pakan untuk saat ini ditingkat peternak itu terlalu mahal. Jadi untuk HPP sekarang itu, harusnya pakan hanya sekitar Rp6.000, tetapi untuk saat ini sudah mencapai di Rp7.500. Harga telur untuk per kilo saat ini Rp19.000 per kilo dari tingkat peternak. Jadi untuk di pasar itu kisaran Rp21.000 sampai Rp22.000.
Dampaknya bagi peternak kalau kondisi seperti sekarang itu, hanya bisa untuk menutup pakan, tidak bisa menutup untuk operasional. Dampaknya itu mungkin dalam 2 bulan sampai 3 bulan ke depan, itu banyak peternak yang gulung tikar yang tidak bisa untuk peremajaan dan sebagainya, karena operasionalnya pun tidak tertutup,” Ungkap Eko Sugiarto, selaku peternak ayam petelur.

Reporter : Bagas RBTV

Penyunting Artikel : Yuliana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *