(Source : Kabar Jogja RBTV)

SLEMAN – Sebuah diskusi dengan tema seni dan demokrasi hari Kamis kemarin digelar di Sleman. Diskusi ini menjadi refleksi 30 tahun Kudatuli dan dihadiri sejumlah seniman, akademisi, hingga tokoh politik.

Inilah sejumlah karya dari Arahmaiani, seorang seniman kontemporer dan pelopor seni pertunjukan paling berpengaruh di Indonesia. Karya-karyanya berani menyoroti isu-isu sosial, politik, hak perempuan, dan lingkungan hingga dirinya harus menerima konsekuensi berhadapan dengan penguasa saat itu.

Arahmaiani hadir menjadi salah satu pembicara dalam forum diskusi refleksi 30 tahun Kudatuli bersama sejarawan sekaligus Direktur Eksekutif Megawati Institute, Hilmar Farid, serta filsuf, S.T. Sunardi.

Peristiwa kerusuhan 27 Juli 1996 di Kantor DPP PDI atau yang dikenal dengan sebutan Kudatuli hingga kini masih lekat dalam ingatan sebagian masyarakat. Peristiwa ini dinilai bukan sekadar persoalan internal partai, melainkan menjadi bagian dari sejarah demokrasi Indonesia.

Anggota DPR RI Komisi VI, Totok Hedi Santosa, menyebut Kudatuli harus dimaknai sebagai titik penting peretasan jalan demokrasi di Indonesia. Diskusi ini mengangkat tema seni dan demokrasi. Tema tersebut dipilih karena seni dinilai tak bisa dipisahkan dari problem sosial yang hidup di tengah masyarakat.

“Seni apapun alasannya tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan problem masyarakatnya, problem sosial yang ada. Maka, seasyik-asyiknya seorang seniman pasti yang keluar adalah refleksi dari koneksitas dia dengan publik, dengan masyarakat, dengan persoalan-persoalan sosial yang ada, meski wujudnya menjadi berbeda-beda. Jadi, di situlah kita mencoba mencari kaitan. Itu yang pertama, yang kedua, kenapa kita memilih budayawan untuk di dalam diskusi ini, seniman dan budayawan dan beberapa aktivis, itu karena kita memandang mereka memiliki satu posisi moral yang sulit didapatkan oleh elemen lain karena justru eksistensinya di dunia yang saya sebutkan itu,” Ujar Totok Hedi Santosa, selaku Anggota DPR RI Komisi VI.

Forum diskusi ini menjadi ruang refleksi bahwa Kudatuli bukan hanya catatan kelam masa lalu. Lebih dari itu, peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa seni, sejarah, dan demokrasi memiliki keterkaitan erat dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Reporter : Widi RBTV

Penyunting Artikel : Yuliana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *