SOLO – Pemerintah resmi mengumumkan kenaikan harga BBM non subsidi jenis Pertamax RON sembilan dua. Kondisi ini langsung mendapat tanggapan negatif dari masyarakat.
Per sepuluh Juni lalu, harga Pertamax RON sembilan dua naik dari dua belas ribu tiga ratus rupiah menjadi enam belas ribu dua ratus lima puluh rupiah.
Kenaikan harga BBM non subsidi ini mendapat tanggapan negatif dari sejumlah orang warga di Kota Solo, Jawa Tengah. Menurut salah satu warga, kenaikan harga dengan selisih hampir empat ribu rupiah tersebut mempengaruhi ekonomi mereka.
Mereka pun tengah menimbang untuk beralih ke BBM subsidi Pertalite yang bilangan oktannya hanya sembilan puluh. Salah satu pertimbangan beralih ke Pertalite adalah keawetan kondisi mesin kendaraan mereka.
“Mau nggak mau pasti harus Pertamax karena nggak pernah pakai Pertalite, tapi keberatan juga ya soalnya kita perjalanan jauh bensinnya butuh banyak. Untuk seharga segitu kayaknya nggak nyampe, biasanya 70 ribu untuk 4 hari, mungkin sekarang 70 ribu berkurang buat beberapa hari saja. Kalau pakai Pertalite nanti motor malah jadi rusak karena selama ini pakai Pertamax jadi pakai Pertalite,” ujar Herlin selaku Warga.
Warga juga mengatakan terpaksa beralih ke Pertalite yang harga per liternya hanya sepuluh ribu rupiah. Warga beralasan untuk menekan biaya pengeluaran mereka.
“Sebenarnya saya juga kaget mas, awal-awal enggak lihat sosial media tahu-tahu kemarin kok ada berita naiknya 4 ribu, terus saya cek ternyata benar. Ya agak kecewa sih mas, naiknya terlalu tinggi banget. Kebetulan motor saya jarang saya pakai yang ini, paling buat saya keluar kota atau pas sibuk aja. Kalau saya ini setiap harinya pakai motor satunya yang Pertalite,” ujar Heri Siswanto selaku Warga.
Naiknya harga Pertamax ini menjadi pertama kalinya pasca lonjakan harga minyak dunia akibat persoalan geopolitik di Timur Tengah. Selain Pertamax RON sembilan dua, Pertamax Green sembilan lima juga naik harga dari dua belas ribu sembilan ratus rupiah menjadi tujuh belas ribu rupiah per liternya.
Reporter: Rizki Budi Pratama RBTV
Penyuting Artikel: Vera
