SLEMAN-Masjid Sulthoni Rejodani tidak hanya memiliki peran sebagai tempat untuk beribadah, namun masjid ini juga menyimpan nilai sejarah dan budaya yang mendalam. Bangunan Masjid Sulthoni Rejodani terletak di kawasan yang asri di Rejodani, Kapanewon Ngaglik, Sleman, dan merupakan salah satu masjid tua kagungan dalem Keraton Yogyakarta. Masjid ini memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan Islam di wilayah utara Yogyakarta.
Secara arsitektural, masjid ini mengusung gaya Jawa dengan atap bertumpang serta ornamen tradisional yang kental dengan nuansa budaya lokal. Di dalam masjid terdapat empat tiang utama yang berfungsi sebagai penyangga bangunan. Sampai saat ini, struktur tiang dan kayu atap masih asli sejak tahun 1838.
Tokoh masyarakat Rejodani, Achyadi, menjelaskan bahwa masjid ini pada awalnya terletak di tengah pemakaman Rejodani sebagai sebuah strategi untuk menyamarkan keberadaannya dari kejaran Belanda selama masa perang. Setelah perang tersebut berakhir dan Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang pada tahun 1830, bangunan masjid tersebut dipindahkan dari area pemakaman pada tahun 1838.

Achyadi, tokoh masyarakat (Sumber foto: Kabar Jogja RBTV)
“Masjid ini didirikan oleh Kyai Kasan Besari, seorang prajurit dari Pangeran Diponegoro pada tahun 1827, yang mana saat itu beliau meninggalkan masjid kecil yang sebelumnya berada di dalam area pemakaman,” ungkap Achyadi, tokoh masyarakat.
Memasuki bulan suci Ramadhan, pengurus takmir secara rutin menggelar berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari buka Puasa bersama, shalat Tarawih, I’tikaf, pengumpulan Zakat, kegiatan sosial, hingga festival takbir keliling yang diikuti oleh belasan masjid di daerah Rejodani.

Hendriyan Wiprantoko, takmir Masjid Sulthony Rejodani (Sumber foto: Kabar Jogja RBTV)
“Setiap tahun, menjelang Idul Fitri, kami mengadakan festival takbir keliling. Kami juga mengundang beberapa masjid untuk meramaikan acara ini serta untuk menyebarkan ajaran Islam,” ujar Hendriyan Wiprantoko, takmir Masjid Sulthony Rejodani.
Keberadaan Masjid Sulthoni Rejodani merupakan suatu bukti bahwa warisan sejarah serta nilai-nilai keagamaan dapat terus lestari di tengah kemajuan zaman.
Reporter: WIDI RBTV
Penyunting artikel: LAILI
