BOYOLALI-Sadranan menjadi tradisi masyarakat Jawa yang terus dilestarikan hingga saat ini menjelang bulan Ramadhan. Di salah satu lokasi di lereng Gunung Merapi, Tradisi Sadranan menjadi semakin istimewa, karena menjadi lambang kerukunan antar umat beragama.
Penduduk Dukuh Sidorejo di Desa Genting, Kecamatan Cepogo, Boyolali, tampak sangat sibuk setiap tanggal tujuh belas bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa. Mereka mempunyai suatu hajat dalam Tradisi Sadranan.
Puluhan tenong berisi makanan mereka angkut satu per satu. Dengan mengenakan pakaian yang rapi, penduduk berjalan bersama dari rumah menuju area pemakaman para leluhur setempat.
Meskipun digelar menjelang bulan Ramadhan, tradisi ini tidak hanya diikuti oleh umat Islam. Seluruh pemeluk agama di Dukuh Sidorejo juga ikut berbahagia dan ikut meramaikan tradisi masyarakat Jawa ini.

Rosidi, tokoh Dukuh Sidorejo (Sumber foto: Kabar Jogja RBTV)
“Ini merupakan tradisi dari nenek moyang, dan kita sebagai anak cucu bertugas untuk melestarikan. Kegiatan ini juga sebagai perekat tali silaturahmi supaya tidak ada kerenggangan antara kaum yang berbeda agama, suku, atau ras,” ungkap Rosidi, tokoh Dukuh Sidorejo.
Setelah melakukan doa, total sekitar sembilan puluh keluarga berkumpul untuk menikmati hidangan. Ekspresi kebahagiaan terlihat jelas di wajah mereka.
Tradisi di lereng Gunung Merapi ini merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan atas rezeki yang telah diterima. Tradisi Sadranan ini juga mempunyai makna menjaga silaturahmi, serta kerukunan antar warga Dukuh Sidorejo.
Sebelum puncak acara, warga telah melakukan serangkaian tradisi, seperti membersihkan makam, sedekah tenongan, dan melakukan silaturahmi antar rumah warga.
Reporter: RIZKI BUDI PRATAMA RBTV
Penyunting artikel: LAILI
