YOGYAKARTA-Headset Bluetooth kini menjadi tren populer di kalangan pecinta musik dan pengguna ponsel. Alat nirkabel ini menawarkan kemudahan tanpa kabel kusut, memungkinkan koneksi cepat untuk mendengarkan lagu atau bertelepon. Meski memudahkan aktivitas sehari-hari, pakar kesehatan memperingatkan risiko gangguan pendengaran. 

Menurut dr. Alvin Nursalim, SpPD dari KlikDokter, mendengarkan suara keras dalam waktu lama melalui headset bisa merusak gendang telinga dan menurunkan kemampuan pendengaran. Lebih lanjut, 247 ilmuwan dari 42 negara menyuarakan keprihatinan atas paparan medan elektromagnetik (PME) non-ionisasi atau radiasi frekuensi radio (RFR) dari perangkat nirkabel, termasuk headset Bluetooth. 

Paparan RFR ini diklasifikasikan sebagai karsinogen potensial oleh Badan Internasional Penelitian Kanker pada 2011, terkait risiko glioma atau kanker otak dari penggunaan ponsel. Joel M. Moskowitz, PhD dari University of California, Berkeley, menekankan bahwa meski radiasi headset lebih rendah daripada ponsel, kedekatannya dengan kepala dan durasi penggunaan panjang bisa memperbesar paparan ke otak.

Risiko ini diperparah pada anak-anak, yang kepalanya lebih kecil dan sensitif terhadap radiasi. Para ilmuwan mendesak WHO dan PBB untuk peraturan lebih ketat guna melindungi masyarakat dari efek kronis seperti gangguan neurologis, kerusakan genetik, hingga masalah reproduksi. Saat ini, regulasi paparan PME masih dianggap kurang memadai oleh banyak pakar.

Untungnya, ada tips sederhana untuk meminimalkan risiko. Gunakan speaker handsfree ponsel untuk panggilan panjang, pilih headset kabel jika memungkinkan, dan jaga jarak ponsel minimal 25 cm dari wajah. Hindari pemakaian saat sinyal lemah, karena radiasi cenderung meningkat. Dr. Santosh Kesari dari John Wayne Cancer Institute menyarankan hal ini terutama untuk anak-anak.

Di era digital ini, headset Bluetooth sulit dihindari, tapi kesehatan tetap prioritas. Dengan kesadaran dan langkah pencegahan, Anda bisa menikmati teknologi tanpa mengorbankan kesejahteraan. Tetap waspada agar tren gadget tidak berubah menjadi ancaman diam-diam. Informasi di kutip dari klildokter.com

Penyunting artikel: LAILI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *