Memasuki awal Tahun 2026, dunia kesehatan kembali dihadapkan pada lonjakan kasus influenza yang populer disebut super flu. Varian influenza A subclade H3N2 ini dilaporkan menyebar dengan cepat di sejumlah negara, termasuk Indonesia, dan memicu kewaspadaan di kalangan tenaga kesehatan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengonfirmasi bahwa kasus super flu telah terdeteksi di beberapa provinsi sejak Agustus 2025. Berdasarkan pemantauan surveilans nasional, puluhan kasus telah teridentifikasi dengan dominasi pada kelompok anak-anak dan usia produktif.
Istilah super flu bukanlah nama medis resmi, melainkan penyebutan untuk varian influenza yang dinilai memiliki tingkat penularan lebih cepat serta gejala yang lebih berat dibanding flu musiman biasa. Gejala yang umum muncul antara lain demam tinggi, batuk berkepanjangan, nyeri otot, kelelahan ekstrem, sakit kepala, hingga gangguan pernapasan pada kasus tertentu.
Di Amerika Serikat, musim flu tahun ini dilaporkan meningkat signifikan dengan lonjakan kunjungan rumah sakit dan rawat inap, terutama pada anak-anak dan lansia. Kondisi tersebut turut menjadi perhatian global karena menunjukkan pola penyebaran yang agresif.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa situasi ini belum dapat dikategorikan sebagai pandemi. Pemerintah diminta tetap waspada tanpa menimbulkan kepanikan di masyarakat. Vaksin influenza musiman dinilai masih memberikan perlindungan, terutama untuk mencegah gejala berat dan komplikasi.
Masyarakat diimbau menerapkan langkah pencegahan seperti menjaga kebersihan tangan, memakai masker saat sakit, menghindari kerumunan ketika tidak sehat, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala berat.
PENYUNTING ARTIKEL: NZ.KIRANA
